Brahman adalah Tuhan yang tak berwujud atau Realitas Absolut, dibedakan dari dua kesempurnaan-Nya yang lain, yang berwujud dan berbentuk dalam semua bentuk. Brahman adalah kesempurnaan dari segalanya, ketiadaan dari yang tidak ada. Kita mungkin bilang tidak ada apa-apa, tetapi dalam ketiadaan itu ada Brahman. Maka, Brahman adalah keberadaan dari semua yang ada, dan ketiadaan dari semua yang tidak ada.
Brahman, untuk mengetahui-Nya harus dicapai dengan kesadaran-Nya, tidak diadakan, tidak dirasakan untuk ada, itu masih keberadaan wadag dan semua alam pikiran, wadag dan susunan pengalaman tidak bisa mengadakan tetapi merupakan jalan menuju realitas terakhir dari Brahman. Sungguh merupakan misteri besar bahwa para rishi dan yogi telah menyadarinya pada jaman yang lampau dan di berbagai jaman lainnya. Untuk menemukan Brahman, yogi memasuki perenungan yang sangat dalam. Berbagai pemikiran timbul dalam pikirannya, konsep-konsep kerohanian dari alam semesta atau Brahman yang ia cari-cari, dalam keheningan dia menjawab, “Bukan, bukan, … Dia bukan ini, Dia bukan itu.” Ketenangan kesadarannya memuai masuk ke dalam Satchidananda. Dia ada di mana-mana, menyebar ke seluruh bagian dari semua wujud dalam keadaan penuh kebahagiaan. Ia mengingat tujuannya, kebahagiaan sempurna yang ada di seberang, dan memegang keteguhan hatinya, “Bukan, bukan, … ini bukan Dia yang aku cari-cari.” Melalui pranayama, melalui mantra, melalui tantra, memanfaatkan tekad yang tak tergoyahkan, kekuatan dari wujud, waktu dan ruang memudar, surut, sehingga yogi semakin dalam masuk ke dalam nirvikalpa samadhi, manunggal dengan Brahman. Cahaya Sang Diri adalah pancaran kedamaian, kebahagiaan sempurna, tanpa bentuk, tanpa asal dan suci, meliputi segalanya di dalam dan di luar sekaligus. Dia adalah kegaiban setiap yang gaib, tak berwujud, sebab musabab alam semesta.
|